Sabtu, 20 Juli 2013

Apa itu Ayah?

Cerita ini adalah bukan tentang seorang anak yang tidak tau siapa Ayahnya, melainkan bercerita tentang seorang anak yang tidak mengerti makhluk seperti apa yang pantas disebut Ayah?

Penulis: “Nak, Jika suatu hari engkau tumbuh besar dan membaca cerita ini, saya harap engkau tetap mengerti, di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan dan mencintaimu Nak!”

Suatu hari hiduplah sebuah keluarga rukun disebuah kota kecil yang cukup damai. kemajuan zaman mulai terasa merasuk membawa segudang keuntungan yang tentu disertai resikonya. Kemajuan ini lambat laun mengubah pola kehidupan dan mulai menggeser nilai kearifan.
Keluarga ini mempunyai seorang anak gadis  yang dianugerahi paras yang begitu cantik, tidakkah dia menyadari bahwa Ia begitu beruntung mempunyai paras yang rupawan? Namun selain tingkah laku,  paras ini pula yang mungkin membawa ia dalam lubang kegelapan.
Singkat cerita, tumbuhlah sebuah benih dalam rahimnya, tak ada pernikahan, tak ada pesta dan tak ada berita kegembiraan.  Hari berganti hari, bulan berganti bulan tidak ada yang tau akan benih itu, ia mencoba berbagai cara untuk mulai menggagalkan sebuah kelahiran itu, namun benih itu begitu kuat seakan ia berjuang dan bertahan agar berhasil turun ke Bumi untuk mencari kebenaran.

Akhirnya benih itu berhasil lahir ke Bumi.

                Ia begitu lucu, begitu sehat, begitu kuat. Dalam hati “Ibu setelah aku lahir, tidakkah kau coba untuk membunuhku? Lagi?”.  Tentu tidak.  Begitu banyak hal yang terjadi hingga akhirnya keberadaan Ibu dan Anaknya dapat diterima di Bumi. Namun bagaimana dengan Ayahnya? Tak ada yang bisa penulis tulis tentang kisahnya, bukan untuk menjaga nama baiknya, namun karena penulis tidak tau siapa ayahnya, dan apa dia masih pantas untuk disebut Ayah ? ? ?
                Setelah benih itu lahir menjadi seorang Bayi dan tumbuh menjadi seorang anak yang amat tampan, lucu, menggemaskan dan tegar. Jarang sekali penulis menemukan sebuah kata penghargaan “tegar” yang di tujukan untuk seorang anak di bawah satu tahun, namun itulah kenyataannya anak itu seakan mengerti posisinya di Bumi ini, ia lebih tegar dan lebih dewasa dari anak seumurannya, hal itu yang membuat penulis sedih. Anak itu mewarisi paras rupawan dari Ibunya, dan mungkin mewarisi postur besar dari Ayahnya “Mungkin”. (Anak inilah yang nanti akan tau kebenarannya)
                Oh ya, anak ini seorang laki-laki. Usianya beranjak satu tahun, kita dapat melihat sebuah keikhlasan dalam senyumnya, melihat sebuah ketegaran dalam tingkahnya dan melihat kedamaian dalam matanya. “Ya Tuhan, berilah ia kekuatan yang lebih untuk menghadapi kehidupannya kelak dan tuntunlah Ia selalu agar menjadi anak lelaki yang Sholeh yang akan mengangkat orang tuanya ke Syurgamu, Amin”.

                Seiring dengan pertumbuhannya, status sosialnya memaksa ia untuk tumbuh dalam kebohongan “Astaghfirullah”.  Kebohongan demi kebohongan terus mewarnai hari-harinya demi sebuah status sosial, pergerakannya terhambat, kebebasannya terbatas. Namun, apa kesalahannya? ? ? 

Aku tau ia ingin berteriak, namun ia belum tau alasan kenapa ia ingin berteriak.
Aku tau ia ingin marah, namun ia tak tau mengapa ia harus marah.
Aku tau ia rindu, namun ia tak tau apa yang dirindukannya.
Aku tau dia ingin mengucapkan kata Papa, namun ia tak tau siapa yang pantas untuk di panggil Papa.
Aku tau dia mencari sosok seorang Ayah, yang akan menyaksikan pertumbuhan dan perkembangannya, yang akan memberikan sebuah hadiah saat ia mulai bisa melangkah, yang akan mencium keningnya dan mencubit pipinya setiap saat, menjaganya saat terlelap, menceritakan sebuah cerita sebelum tidur, mengabadikan setiap momen berharga, dan melakukan semua kegiatan manis lainnya bersama sehingga ia pantas untuk di sebut Ayah.


               *Ilustrasi
Mewakili jeritan hati seorang anak satu tahun yang terus terpendam dalam hati.
“Ayah, dimanapun kamu berada, aku mengucapkan terima kasih telah membuatku merasakan kehidupan di dunia ini, dan hati ini diciptakan untuk menyayangimu Ayah, namun apakah kau menyayangiku juga?” ya Tuhan titipkan salam rinduku untuk Ayah. (K)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar