Cerita ini adalah bukan tentang seorang anak yang tidak tau siapa
Ayahnya, melainkan bercerita tentang seorang anak yang tidak mengerti makhluk
seperti apa yang pantas disebut Ayah?
Penulis: “Nak, Jika
suatu hari engkau tumbuh besar dan membaca cerita ini, saya harap engkau tetap
mengerti, di luar sana masih banyak orang yang membutuhkan dan mencintaimu Nak!”
Suatu hari hiduplah sebuah keluarga
rukun disebuah kota kecil yang cukup damai. kemajuan zaman mulai terasa merasuk
membawa segudang keuntungan yang tentu disertai resikonya. Kemajuan ini lambat
laun mengubah pola kehidupan dan mulai menggeser nilai kearifan.
Keluarga ini mempunyai seorang anak
gadis yang dianugerahi paras yang begitu
cantik, tidakkah dia menyadari bahwa Ia begitu beruntung mempunyai paras yang
rupawan? Namun selain tingkah laku, paras
ini pula yang mungkin membawa ia dalam lubang kegelapan.
Singkat cerita, tumbuhlah sebuah
benih dalam rahimnya, tak ada pernikahan, tak ada pesta dan tak ada berita
kegembiraan. Hari berganti hari, bulan
berganti bulan tidak ada yang tau akan benih itu, ia mencoba berbagai cara
untuk mulai menggagalkan sebuah kelahiran itu, namun benih itu begitu kuat seakan
ia berjuang dan bertahan agar berhasil turun ke Bumi untuk mencari kebenaran.
Akhirnya benih itu berhasil lahir
ke Bumi.
Ia begitu
lucu, begitu sehat, begitu kuat. Dalam hati “Ibu
setelah aku lahir, tidakkah kau coba untuk membunuhku? Lagi?”. Tentu tidak. Begitu banyak hal yang terjadi hingga
akhirnya keberadaan Ibu dan Anaknya dapat diterima di Bumi. Namun bagaimana
dengan Ayahnya? Tak ada yang bisa penulis tulis tentang kisahnya, bukan untuk
menjaga nama baiknya, namun karena penulis tidak tau siapa ayahnya, dan apa dia
masih pantas untuk disebut Ayah ? ? ?
Setelah
benih itu lahir menjadi seorang Bayi dan tumbuh menjadi seorang anak yang amat
tampan, lucu, menggemaskan dan tegar. Jarang sekali penulis menemukan sebuah
kata penghargaan “tegar” yang di tujukan untuk seorang anak di bawah satu tahun,
namun itulah kenyataannya anak itu seakan mengerti posisinya di Bumi ini, ia
lebih tegar dan lebih dewasa dari anak seumurannya, hal itu yang membuat
penulis sedih. Anak itu mewarisi paras rupawan dari Ibunya, dan mungkin
mewarisi postur besar dari Ayahnya “Mungkin”. (Anak inilah yang nanti akan tau
kebenarannya)
Oh ya,
anak ini seorang laki-laki. Usianya beranjak satu tahun, kita dapat melihat
sebuah keikhlasan dalam senyumnya, melihat sebuah ketegaran dalam tingkahnya
dan melihat kedamaian dalam matanya. “Ya
Tuhan, berilah ia kekuatan yang lebih untuk menghadapi kehidupannya kelak dan
tuntunlah Ia selalu agar menjadi anak lelaki yang Sholeh yang akan mengangkat
orang tuanya ke Syurgamu, Amin”.
Seiring
dengan pertumbuhannya, status sosialnya memaksa ia untuk tumbuh dalam
kebohongan “Astaghfirullah”. Kebohongan demi
kebohongan terus mewarnai hari-harinya demi sebuah status sosial, pergerakannya
terhambat, kebebasannya terbatas. Namun, apa kesalahannya? ? ?
Aku tau ia ingin berteriak, namun ia belum tau alasan kenapa
ia ingin berteriak.
Aku tau ia ingin marah, namun ia tak tau mengapa ia harus
marah.
Aku tau ia rindu, namun ia tak tau apa yang dirindukannya.

Aku tau dia ingin mengucapkan kata Papa, namun ia tak tau
siapa yang pantas untuk di panggil Papa.
Aku tau dia mencari sosok seorang Ayah, yang akan
menyaksikan pertumbuhan dan perkembangannya, yang akan memberikan sebuah hadiah
saat ia mulai bisa melangkah, yang akan mencium keningnya dan mencubit pipinya
setiap saat, menjaganya saat terlelap, menceritakan sebuah cerita sebelum
tidur, mengabadikan setiap momen berharga, dan melakukan semua kegiatan manis
lainnya bersama sehingga ia pantas untuk di sebut Ayah.
*Ilustrasi
Mewakili jeritan hati seorang anak satu tahun yang terus
terpendam dalam hati.
“Ayah, dimanapun kamu
berada, aku mengucapkan terima kasih telah membuatku merasakan kehidupan di
dunia ini, dan hati ini diciptakan untuk menyayangimu Ayah, namun apakah kau menyayangiku
juga?” ya Tuhan titipkan salam rinduku untuk Ayah. (K)